Teruntuk Kamu


Layaknya kertas penuh tinta yang setelahnya tidak tau harus disimpan atau dibuang. Begitu banyak warna tinta yang digoreskan. Jangan pernah menulisnya jika hanya untuk dibuang. Karena kertas tak sesepele itu. Aku harap kamu paham. Sebab, untuk menggambarkan perasaan ini tidaklah mudah. Begitu banyak dusta bahkan kebencian darimu yang membuat aku ingin pergi jauh. Meski telah selesai, tapi rasa sakit hati tidak pernah usai. Memang pada awalnya bukan aku yang menginginkan untuk pergi. Sekarang, aku sudah sangat jauh pergi darimu seperti yang kamu lakukan padaku.
 Jika dulu aku menangisimu, mungkin itu adalah hal terbodoh yang pernah ku lakukan. Karena, kamu tidak layak untuk ditangisi. Sebenarnya aku bukan menangisimu, itu hanyalah ungkapan rasa penyesalanku karena telah menerima pecundang sepertimu. Jangan marah padaku jika aku berkata seperti itu. Aku tau kamu punya cermin dirumah, maka bercerminlah. Cobalah untuk bercermin sebentar agar kamu tau betapa banyaknya kerikil di tubuhmu. Tidak ada yang mampu menghentikanku untuk berkata apapun tentangmu, sekalipun itu kamu.
Teruntuk kamu,
Aku tidak akan menyerah pada patah.





Komentar